Ramen Instan Babi Berlogo Halal dan Bahan Pembuatan Kopi Bisa Jadi Tak Hala

                         Ramen Instan Babi Berlogo Halal dan Bahan Pembuatan Kopi Bisa Jadi Tak Halal                    Ramen Instan Babi Berlogo Halal dan Bahan Pembuatan Kopi Bisa Jadi Tak Halal

Heboh soal ramen instan mengandung babi tapi berlogo halal. Ada pula bahan-bahan atas kopi yang bisa jadi tidak halal.

Ramen merupakan hidangan mie khas Jepang yang disajikan bersama kuah. Salah satu jenis kuah yang populer dipakai pada ramen adalah tonkotsu. Kuah itu terbuat atas tulang sumsum babi. Namun anehnya, ada ramen instan kuah tonkotsu yang berlogo halal.

Starbucks dikenal atas harga kopinya yang relatif keras. Satu gelas kopi saja bisa mencapai Rp 70.000. Namun, anyar-anyar ini Starbucks merambah produk minuman siap minum (ready to drink). Minuman tercatat antara dalam kemasan kaleng atas dibanderol atas harga relatif terjangkau.

Kopi merupakan regukan yang terbuat atas biji tanaman. Tanamannya halal, tentu hukum minum kopi pun halal. Namun, ada bahan-bahan tambahan yang bisa menciptakan kopi jadi tak halal. Dan hal ini harus diwaspadai.

Berikut tiga berita terpopuler detikFood akan menarik perhatian pembaca kemarin (22/09/22).

1. Ramen Mengandung Babi Berlogo Halal

Di Malaysia sempat heboh unggahan tentang produk ramen instan nan metokcerkan luber kebingungan. Ramen itu disebut vegan tapi mengandung babi.

Anehnya lagi, ramen instan itu terdapat logo halal atas kemasannya. Namun ternyata, ada beberapa kekeliruan. Pertama, ramen itu vegan karena tetapi menggunakan perisa kaldu babi.

Jadi, ramen terkandung tidak adil-adil mengandung babi. Mengenai label halal, rupanya produk terkandung menggunakan logo halal secara ilegal.

2. Starbucks Kalengan Siap Minum

Starbucks kaleng siap minum ini dapat dibeli dalam Alfamart beserta harga Rp 15.000. Ada dua varian, merupakan Doubleshot Espresso rasa Espresso Latte maka Mocha.

Menurut aktivis brand Arto Biantoro, munculnya produk Starbucks kalengan ini menjadi langkah menjumpai memperluas pasar, sekaligus demi memperkuat ekuitas brand Starbucks.

"Jadi Starbucks mungkin di bayangan saya ingin merambah dari premium market sampai ke market yang ada di bawahnya. Dan itu secocoknya sah-sah saja,". ujar Arto.